Rabu, 06 Maret 2024

Pentingnya Manajemen Mutu Internal pada Satuan Pendidikan


    Mutu Pendidikan menurut Permendiknas nomor 63 tahun 2009 adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem pendidikan nasional. sedangkan Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu melakukan proses pematangan kualitas siswa dikembangkan dengan cara membebaskan siswa dari ketidaktahuan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan dari buruknya akhlak dan keimanan.
Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Manajemen merupakan suatu Upaya Peningkatan Mutu yang bisa dilakukan oleh Satuan pendidikan pada seluruh aspek organisasi secara terus menerus atau berkesinambungan, sehingga mampu berkualitas yang memenuhi standar dan kepuasan secara berkelanjutan.
Penjaminan mutu secara internal akan membantu sekolah untuk memberikan kualitas layanan prima bagi murid, orang tua dan masyarakat. walaupun pada kenyataannya hampir pada semua sekolah telah menjadi kebiasaan adalah ketika dibebankan dengan Akreditasi sekolah maka setiap sekolah akan lembur untuk menyiapkan setiap administrasi yang dibutuhkan untuk di Akreditasi, artinya penjaminan mutu sekolah bukan menjadi budaya atau kebiasaan tapi merupakan kegiatan rutin setiap 5 tahun untuk mendapatkan pengakuan bahwa sekolah atau satuan pendidikan berstandar atau memenuhi standar. Namun yang dilupakan bahwa suatu sekolah dikatakan bermutu jika memenuhi standar dan kepuasan secara berkelanjutan bukan pada saat akreditasi saja.
    Manajemen Mutu Terpadu melihat secara keseluruhan kedudukannya dari segi Filsafat, budaya dan Teknik Manajemen. Sebagai Filsafat diartikan sebagai suatu keyakinan dengan kata lain Penjaminan Mutu diyakini akan meningkatkan mutu dari suatu pendidikan dalam hal ini satuan pendidikan, setelah itu diyakini akan menjadi budaya artinya dibiasakan setiap hari bahwa aspek-aspek penjaminan mutu bisa dilaksanakan; dan teknik manajemen sebagai suatu teknik manajemen artinya dalam hal teknis dapat diimplementasikan, bagaimana teknik manajemen yang cocok di setiap sekolah dengan kata lain mencari teknik yang paling tepat untuk melakukan penjaminan mutu
     Pada pengaplikasiannya setiap sekolah mulai dari pimpinan sampai kepada pengurus dibawahnya wajib bahkan anggotanya juga bertanggungjawab atau menjadi tanggungjawab bersama untuk memberikan kualitas yang memenuhi standar dan memberikan kepuasaan secara berkelanjutan. Mulailah dari membentuk TIM Penjaminan Mutu Internal di sekolah masing-masing untuk dapat menjadi kualitas sekolah sesuai standar dalam hal ini 8 standar nasional pendidikan dan mendapatkan kepuasan dari penggunanya dalam hal ini ekosistem sekolah.

Untuk pembahasan bagaimana membentuk TIM Penjaminan Mutu Internal sekolah akan dibahas pada blog selanjutnya. semoga bermanfaat dan terimakasih 
  

Selasa, 20 Juni 2023

Memahami CP, Menyusun TP dan ATP

Pembelajaran didalam kelas

Sebagai seorang guru kita wajib memahami tentang perkembangan Pendidikan di Indonesia dalam hal ini penerapan kurikulum merdeka yang merupakan hal baru bagi guru yang sudah nyaman menggunakan kurikulum 2013. Ayo bapak/ibu guru kita belajar bersama tentang Capaian Pembelajaran (CP), Merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP), dan bagaimana cara menyusun Alur Tujuan Pembelajaran.  (ATP).

 
mementukan suku ke-n dan jumlah suku n memanfaatkan lingkungan sekolah sambil
menanamkan budaya positf Peduli lingkungan

Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. 
Berikut beberapa hal yang perlu dipahami tentang kekhasan CP sebelum memahami isi dari capaian untuk setiap mata pelajaran.

    • Dalam CP, kompetensi yang ingin dicapai ditulis dalam paragraf yang memadukan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau disposisi untuk belajar. Sementara karakter dan kompetensi umum yang ingin dikembangkan dinyatakan dalam profil pelajar Pancasila secara terpisah. Dengan dirangkaikan sebagai paragraf, ilmu pengetahuan yang dipelajari peserta didik menjadi suatu rangkaian yang berkaitan. 
    • CP dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan “Understanding by Design” (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005). Dalam kerangka teori ini “memahami” merupakan kemampuan yang dibangun melalui proses dan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat menjelaskan, menginterpretasi dan mengaplikasikan informasi, menggunakan berbagai perspektif, dan berempati atas suatu fenomena. Dengan demikian, pemahaman bukanlah suatu proses kognitif yang sederhana atau proses berpikir tingkat rendah.
    • Memang apabila merujuk pada Taksonomi Bloom, pemahaman dianggap sebagai proses berpikir tahap yang rendah (C2). Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom sebenarnya digunakan untuk perancangan pembelajaran dan asesmen kelas yang lebih operasional, bukan untuk CP yang lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/ menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran yang lebih konkret. 
    • Naskah CP terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase. Rasional menjelaskan alasan pentingnya mempelajari mata pelajaran tersebut serta kaitannya dengan profil pelajar Pancasila. Tujuan menjelaskan kemampuan atau kompetensi yang dituju setelah peserta didik mempelajari mata pelajaran tersebut secara keseluruhan. Karakteristik menjelaskan apa yang dipelajari dalam mata pelajaran tersebut, elemen-elemen atau domain (strands) yang membentuk mata pelajaran dan berkembang dari fase ke fase. Capaian per fase disampaikan dalam dua bentuk, yaitu secara keseluruhan dan capaian per fase untuk setiap elemen. Oleh karena itu, penting untuk pendidik mempelajari CP untuk mata pelajarannya secara menyeluruh.

Memahami CP adalah langkah pertama yang sangat penting. Setiap pendidik perlu familiar dengan apa yang perlu mereka ajarkan, terlepas dari apakah mereka akan mengembangkan kurikulum, alur tujuan pembelajaran, atau silabusnya sendiri atau tidak. Beberapa contoh pertanyaan reflektif yang dapat digunakan untuk memandu guru dalam memahami CP, antara lain:

    • Kompetensi apa saja yang perlu dimiliki peserta didik untuk sampai di capaian pembelajaran akhir fase?
    • Kata-kata kunci apa yang penting dalam CP? 
    • Apakah ada hal-hal yang sulit saya pahami?
    • Apakah capaian yang ditargetkan sudah biasa saya ajarkan? 

Selain untuk mengenal lebih mendalam mata pelajaran yang diajarkan, memahami CP juga dapat memantik ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk memantik ide: 

    • Bagaimana capaian dalam fase ini akan dicapai anak didik?
    • Materi apa saja yang akan dipelajari dan seberapa luas serta mendalam?
    • Proses belajar seperti apa yang akan ditempuh peserta didik?

Tujuan Pembelajaran 

 Setelah memahami CP, pendidik mulai mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus dipelajari peserta didik dalam suatu fase. Pada tahap ini, pendidik mulai mengolah ide tersebut, menggunakan kata-kata kunci yang telah dikumpulkannya pada tahap sebelumnya, untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dikembangkan ini perlu dicapai peserta didik dalam satu atau lebih jam pelajaran, hingga akhirnya pada penghujung Fase mereka dapat mencapai CP. Oleh karena itu, untuk CP dalam satu fase, pendidik perlu mengembangkan beberapa tujuan pembelajaran. Dalam tahap merumuskan tujuan pembelajaran ini, pendidik belum mengurutkan tujuantujuan tersebut, cukup merancang tujuantujuan belajar yang lebih operasional dan konkret saja terlebih dahulu. Urutan-urutan tujuan pembelajaran akan disusun pada tahap berikutnya. Dengan demikian, pendidik dapat melakukan proses pengembangan rencana pembelajaran langkah demi langkah.Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu:

    1. Kompetensi, yaitu kemampuan atau keterampilan yang perlu ditunjukkan/ didemonstrasikan oleh peserta didik. Pertanyaan panduan yang dapat digunakan pendidik, antara lain: secara konkret, kemampuan apa yang perlu peserta didik tunjukkan? Tahap berpikir apa yang perlu peserta didik tunjukkan? 
    2. Lingkup materi, yaitu konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran. Pertanyaan panduan yang dapat digunakan pendidik, antara lain: hal apa saja yang perlu mereka pelajari dari suatu konsep besar yang dinyatakan dalam CP? Apakah lingkungan sekitar dan kehidupan peserta didik dapat digunakan sebagai konteks untuk mempelajari konten dalam CP (misalnya, proses pengolahan hasil panen digunakan sebagai konteks untuk belajar tentang persamaan linear di SMA)

Dalam proses perumusan tujuan pembelajaran dapat menggunakan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom ini telah direvisi seiring dengan perkembangan hasil-hasil penelitian. Anderson dan Krathwohl (2001) mengembangkan taksonomi berdasarkan Taksonomi Bloom, dan dinilai lebih relevan untuk konteks belajar saat ini. Anderson dan Krathwohl mengelompokkan kemampuan kognitif menjadi tahapan-tahapan berikut ini, dengan urutan dari kemampuan yang paling dasar ke yang paling tinggi sebagai berikut:

Berikut Kata Kerja Operasional (KKO) dapat di download disini.

Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

 angkah berikutnya dalam perencanaan pembelajaran adalah menyusun alur tujuan pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran sebenarnya memiliki fungsi yang serupa dengan apa yang dikenal selama ini sebagai “silabus”, yaitu untuk perencanaan dan pengaturan pembelajaran dan asesmen secara garis besar untuk jangka waktu satu tahun. Oleh karena itu, pendidik dapat menggunakan alur tujuan pembelajaran saja, dan alur tujuan pembelajaran ini dapat diperoleh pendidik dengan:

    1. merancang sendiri berdasarkan CP, 
    2. mengembangkan dan memodifikasi contoh yang disediakan, ataupun 
    3. menggunakan contoh yang disediakan pemerintah. 

Bagi guru yang merancang alur tujuan pembelajarannya sendiri, tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya akan disusun sebagai satu alur (sequence) yang berurutan secara sistematis, dan logis dari awal hingga akhir fase. Alur tujuan pembelajaran juga perlu disusun secara linier, satu arah, dan tidak bercabang, sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari. 

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan:

 

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, pendidik dapat mengacu pada berbagai cara yang diuraikan pada tabel di bawah ini (Creating Learning Materials for Open and Distance Learning, 2005; Doolittle, 2001; Morrison, Ross, & Kemp, 2007; Reigeluth & Keller, 2009).

Cara-cara menyusun TP menjadi ATP

Guru dapat menggunakan contoh alur tujuan pembelajaran yang telah tersedia, atau memodifikasi contoh alur tujuan pembelajaran menyesuaikan kebutuhan peserta didik, karakteristik dan kesiapan satuan pendidikan. Selain itu, pendidik dapat menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan. Tidak ada format komponen yang ditetapkan oleh pemerintah. Komponen alur tujuan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang mudah dimengerti oleh guru.

Dibawah ini merupakan contoh dari Pembuatan TP dan Penyusunan ATP matematika yang merupakan salah-satu tagihan sebagai peserta BIMTEK Peningkatan Kompetensi Guru SMA Mata Pelajaran Matematika. 

 Terimakasih, semoga bermanfaat !

 

 

 



Selasa, 09 November 2021

PENGELOAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID-AKSI NYATA MODUL 3.3

Dalam melaksanakan tugas sebagai guru khususnya seorang Calon Guru Penggerak  dihadapkan pada Pemimpin Pembelajaran harus bisa mengelolah Program yang berdampak pada murid.


Pada Program  Pendidikan Guru Penggerak khususnya pada Modul 3.3 Pada tahapan Demonstrasi Kontekstual, guru sudah membuat rancangan program sekolah yang berdampak pada murid dan dalam pelaksanaannya guru ditantang untuk menjalankan program tersebut berdasarkan rancangan yang sudah dibuat pada tahap Demonstrasi Kontekstual. 


Berikut saya berbagi Rancangan Aksi Nyata disekolah saya SMA Negeri 3 Manokwari dan Artikel Refleksi dari Pelaksanaan Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid sebagai berikut :

Semoga bermanfaat. Terimakasih



Senin, 09 Agustus 2021

KURIKULUM DARURAT - (KI - KD)

Kurikulum Darurat merupakan salah satu kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan ini dikeluarkan untuk meringankan kesulitan belajar selama pandemi. Khususnya bagi sekolah yang tetap melaksanakan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dan dipastikan kurikulum darurat ini dapat digunakan untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, SMA dan SMK.

Penerapan Kurikulum darurat ini masih berlaku sampai saat ini untuk tahun pelajaran 2021/2022. Kurikulum darurat yang difungsikan sebagai penyederhanaan kompetensi dasar. Modul pembelajaran berisi panduan untuk guru, asisten dalam hal ini orang tua atau wali, dan siswa itu sendiri. Kurikulum Darurat mengurangi setiap mata pelajaran, menitikberatkan pada kompetensi esensial dan prasyarat pembelajaran pada jenjang selanjutnya, jadi tidak luas tapi mendalam.

berikut link lampiran KI - KD kurikulum darurat SMA yang bisa digunakan guru untuk menyusun Perangkat Pembelajarannya :

Kelas X : https://drive.google.com/file/d/1wfiHLBjH8DF14jCIpwa-9JT7BWPD-3oS/view?usp=sharing

Kelas XI : https://drive.google.com/file/d/1WJ4fcjnnZjBMw16IJcPM9xBKIr7zl4EF/view?usp=sharing

Kelas XII : https://drive.google.com/file/d/19Sdt_sSOsx782pesmH0flxBtsczOgGY4/view?usp=sharing

semoga bermanfaat. Terimakasih.

Rabu, 28 Juli 2021

PGP-Angk2-Kabupaten Manokwari-Krisye Kloudia Adimin-1.4-Aksi Nyata

 Aksi Nyata - Budaya Positif

 

Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak 

            Tujuan dari pelaksanaan Program Guru Penggerak antara lain untuk peningkatan kompetensi guru dan kepala sekolah mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang berdaya dan berkomitmen dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Peserta Didik. Untuk menjadi guru penggerak, harus mengikuti tahapan yang telah ditetapkan, mulai dari proses seleksi yaitu administrasi,,tes bakat skolatik, tes mengajar, dan tes wawancara . Peserta yang lolos seleksi akan mengikuti serangkaian pelatihan selama sembilan bulan yang meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan. Berpijak pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang menghadirkan tiga kata kunci yang perlu diterapkan bagi seorang guru, yaitu teladan, motivasi, dan berdaya atau merdeka inilah yang menjadi pedoman bagi saya dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Guru Penggerak harus memberikan dampak kepada guru-guru lain serta dampak kepada sekolahnya. Seorang guru bukan hanya dituntut untuk mengajar materi guna mencapai kompetensi pembelajaran dan mengutamakan kognitif Peserta Didik saja tetapi menggali potensi diri Peserta Didik untuk pembentukan karakter. Untuk itu saya melatih murid agar berani untuk menyampaikan ide atau gagasan dengan membuat suatu kesepakatan kelas, dengan begitu peserta didik dapat membuat kesepakatan yang harus dilaksanakan bersama sebagai aturan selama proses belajar berlangsung. Suasana belajar yang menyenangkan berdampak pada kondisi psikologi Peserta Didik. Peserta Didik lebih bisa berkonsentrasi dan aktif dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Aksi nyata budaya positif secara lengkap dapat dilihat disini


Selasa, 27 Juli 2021

Tugas LK 1.1 _ Pendalaman Materi_PPG Daljab Angkatan 1 Tahun 2021

    


Program PPG Dalam Jabatan bagi guru yang sudah menjalankan tugas merupakan hal yang di nanti-nanti, proses yang dilaluipun tidak mudah mulai dari harus mengikuti pretest UKG dan harus lulus Pretest dulu baru bisa mengikuti program PPG dalam Jabatan. ditambah lagi harus menunggu antrian untuk mendapatkan angkatan pada satu tahun berjalan. Program PPG dalam Jabatan merupakan program pendidikan profesi, dengan level 7 pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).  Sesuai Undang Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Program PPG dalam Jabatan diselenggarakan setelah program sarjana atau sarjana terapan, yang menuntut standar kompetensi lulusan yang berbeda dengan program sarjana atau sarjana terapan. Standar kompetensi lulusan (SKL) Prodi PPG yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan Prodi PPG.

Kita bahkan harus melewati beberapa mata kuliah, dan diawali dengan mata kuliah "Pendalaman Materi" Mata Kuliah pendalaman materi pedagogik dan bidang studi dilakukan secara daring dengan beban belajar 5 sks. Mata kuliah ini memfasilitasi Mahasiswa untuk penguatan pemahaman tentang keprofesian, pedagogi, dan materi bidang studi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran yang dilakukan secara daring dan mandiri melalui learning management system  (LMS) dan sumber lainnya. Keprofesian guru perlu didukung dengan pemahaman yang mendalam tentang teori belajar, psikologi pendidikan, sosial kultural, kontruksi sosial, dan keberagaman. Pendalaman materi pedagogi mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang mendidik. Pendalaman materi bidang studi mencakup materi esensial termasuk advance materials bidang studi yang dapat menjelaskan aspek “apa” (konten), “mengapa” (filosofi), dan “bagaimana” (penerapan) dalam kehidupan sehari-hari. Pendalaman materi bidang studi ini juga diarahkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). 

Pendalaman Materi dilaksanakan dalam bentuk kegiatan menganalisis materi ajar yang dilakukan oleh mahasiswa secara mandiri dan daring untuk mempelajari dan mereview materi PPG, berdiskusi, mengidentifikasi materi yang sulit dipahami, materi HOTS, materi yang memiliki miskonsepsi, di bawah bimbingan dosen. Kegiatan ini memiliki bobot 5 sks dan diselesaikan dalam waktu 13 hari, dengan alur pembelajaran berikut.



dari Alur Pendalaman materi sebelumnya kita diwajibkan untuk mengirimkan beberapa Tagihan atau Tugas yang harus diselesaikan. yang ahus disiapkan oleh mahasiswa adalah Tagihan LK 1.1 yang bisa di download disini.

semoga bisa membantu untuk teman-teman guru yang sedang melaksanakan PPG Dalam Jabatan. Terimakasih

Senin, 28 Juni 2021

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL - BUDAYA POSITIF

MEMBUAT KESEPAKATAN KELAS 


Pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

untuk mewujudkan hal tersebut seorang guru harus mampu :

  • menuntun bak seorang petani dalam menumbuhkan tanamannya
  • menghamba pada murid
  • memahami kodrat anak
  • memperbaiki lakunya agar selaras dengan budi pekertinya
  • menjadikan murid sebagai manusia yang merdeka
selain hal tersebut diatas guru juga harus bisa mewujudkan profil Pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Murid yang merdeka adalah murid yang memiliki kebebasan untuk melakukan inovasi , mengembangkan potensi yang dimiliki, belajar dengan mandiri dan kreatif  serta menyenangkan dan tanpa ada paksaan. untuk itu penting bagi sekolah ataupun guru dalam proses pembelajaran untuk melakukan kesepakatan kelas.

Kesepakatan Kelas adalah keputusan yang diambil bersama guru dan murid untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif sesuai dnegan tujuan yang diharapkan. dalam hal ini keputusan diambl agar guru dan murid dapat berkomitmen  tentang apa-apa saja yang dilakukan selama proses belajar berlangsung.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas

secara garis bersar langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas secara runtut dan jelas saat memulai pembelajaran didalam kelas antara lain :

  1. Menanyakan Harapan Murid
  2. Membuat kesepakatan
  3. Menyajikan Kesepakatan
  4. Melakukan Kesepakatan
  5. Melakukan Refleksi
Tindakan yang dilakukan dalam membuat Kesepakatan kelas
kesepakatan yang dibuat didalam kelas dilaksanakan setelah guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai selama pembelajaran. dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  • guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran
  • guru menanyakan harapan murid tentang kelas yang mereka inginkan
  • guru menampilkan dan menyampaikan prosedur pembelajaran yang akan murid lewati selama pembelajaran 
  • Guru meminta murid menyampaikan kemudian menyepakati hal-hal positif yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam kelas selama pembelajaran berlangsung
  • menuliskan hasil kesepakatan pada Slide yang ditampilkan guru dan di buku catatan murid untuk di ingat dan dilaksanakan.
  • guru memperkuat komitmen mereka dengan memberikan motovasi-motivasi positif.
Respon murid yang terjadi sangat baik terlihat dari mereka berdiskusi dalam kelompok, saat presentasi kelompok sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik dan menyenangkan. 
Guru Menyampaikan Tujuan Pembelajaran
Guru Menyampaikan Tujuan pembelajaran

Guru menampilkan prosedur Pembelajaran sebelum
menyusun kesepatan kelas

Kesepakatan Kelas yang disusun untuk dilakukan


Siswa tertib dan aktif dalam diskusi kelompok



Siswa tertib dan aktif dalam presentasi kelompok